Pemberdayaan Kesehatan Anak & Keluarga
Pendampingan anak dan keluarga adalah bagian dari pemberdayaan masyarakat dengan melakukan segala upaya fasilitasi yang bersifat noninstruktif guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah, merencanakan dan mencari pemecahannya dengan memanfaatkan potensi setempat dan fasilitas yang ada, baik dari instansi lintas sektoral, swasta maupun LSM dan tokoh masyarakat lainnya.
Permasalahan utama pembangunan kesehatan adalah masalah perilaku masyarakat. Sampai saat ini, sebagian anggota masyarakat belum berperilaku hidup bersih dan sehat. Dalam upaya mendorong kemandirian masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat, dibutuhkan partisipasi masyarakat melalui pembangunan kesehatan yang berupa upaya kesehatan bersumber daya masyarakat berbasis keluarga.
Program pemberdayaan kesehatan berbasis keluarga ini muncul setelah melihat permasalahan kesehatan yang ada, misalnya begitu banyaknya anak mengalami gizi kurang dan gizi buruk, penyakit-penyakit menular, serta penyakit infeksi lainnya yang banyak diderita oleh anak dan keluarga miskin dampingan FSP SOS.
Hal inilah yang melatarbelakangi kerja sama secara intensif antara SOS Children’s Village Indonesia dalam hal ini secara langsung dilakukan oleh para Pembina FSP SOS Children’s Village bersama dengan tokoh masyarakat, instansi kesehatan setempat mendampingi pemberdayaan kesehatan keluarga-keluarga melalui Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) untuk anak balita.
Para Pembina harus mengetahui dengan pasti jumlah Posyandu dampingan FSP SOS, di mana lokasinya, dan berapa jumlah keluarga yang didukung khusus dengan program kemandirian kesehatan anak dan keluarga.
Dalam mencapai target seperti yang diharapkan ini, para pembina diharapkan dapat membangun jaringan kerja sama dengan berbagai pihak terutama pihak pemerintah yaitu para camat, kepala desa, dokter, bidan, petugas gizi, petugas sanitasi puskesmas.
1. Kegiatan Pendampingan dan Pencapaian
Pendampingan kesehatan yang harus dilakukan para Pembina FSP adalah suatu proses membantu individu baik anak begitu juga keluarganya dan komunitas ataupun masyarakat untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilannya guna mengontrol berbagai faktor yang berpengaruh pada kesehatan, sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatannya. Sebuah hasil proses mereka sadar kesehatan, termotivasi untuk berperilaku hidup bersih dan sehat, berdaya dan mandiri atas kesehatan mereka sendiri.
Sehubungan dengan implementasi konsep program penguatan/pemberdayaan keluarga di SOS Children’s Village, maka para Pembina diharapkan mampu mengembangkan 2 aktivitas utama, yaitu:
- Melakukan penambahan gizi pada anak-anak yang mengalami gizi kurang dan gizi buruk sesuai dengan standar yang berlaku. Termasuk melakukan upaya pencegahan penyakit melalui pengelolaan gaya hidup sehari-hari.
- Melakukan upaya pemberdayaan langsung di masyarakat dan advokasi, sehingga pendampingan ini tidak hanya pendekatan dari SOS Children’s Village ke masyarakat, namun dari masyarakat juga ke pemerintah.
Maka Pembina FSP diharapkan melakukan langkah-langkah dalam pemberdayaan masyarakat :
1. Merancang keseluruhan program bersama staf dan koordinasi melalui tim pendampingan SOS Children’s Village Indonesia untuk program pemberdayaan keluarga di wilayah, termasuk merancang kerangka waktu kegiatan, besaran ukuran program, serta memberikan perhatian pada kelompok marginal.
2. Menetapkan tujuan
3. Memilih strategi pemberdayaan
4. Implementasi strategi dan manajemen.
5. Evaluasi program.
Kerja sama antara pembina FSP dan mitra telah menghasilkan contoh beberapa program kegiatan, antara lain :
a. Kegiatan Pendampingan
Kegiatan pendampingan posyandu yang dilakukan selama ini adalah :
- Kegiatan sosialisasi, kegiatan ini mencakupi sosialisasi PMT dan gizi seimbang, pemberian ASI esklusif, Sosialisasi Sanitasi dan praktek anak cuci tangan sebelum makan di posyandu dan pengasuhan yang holistik dan tepat sasar sesuai dengan tingkatan tumbuh kembang anak.
- Penimbangan Balita di Posyandu dan pemberian PMT umum untuk semua peserta posyandu.
- Pengendalian Gizi buruk dan gizi kurang melalui pemberian PMT siap saji 4 sehat 5 sempurna, tiga kali seminggu. Pemberian Vitamin untuk meningkatkan nafsu makan anak dan pemberian meal time. Meal time dibawa pulang ke rumah masing masing untuk disajikan kepada balita selama 4 hari kosong. Sehingga dalam 7 hari seminggu balita gizi kurang dan gizi buruk betul-betul mendapat perhatian yang serius. Kegiatan PMT ini khusus untuk Balita gizi kurang & gizi buruk, dengan tujuan untuk pemulihan status gizi balita.
- Kunjungan rumah, kegiatan ini dilakukan oleh pembina FSP ke rumah anak balita-balita gizi kurang dan gizi buruk. Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan keadaan rumah, lingkungan dan memotivasi orang tua balita agar terus berusaha memperbaiki status gizi anak.
- Bila mampu mencari akses, Pembina SOS dan mitra bisa membangun sarana kesehatan, MCK dan bak penampung air bersih di wilayah dampingan, guna menunjang kesehatan anak-anak dan warga masyarakat.
- Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan dan penyegaran para kader posyandu, para Pembina bisa melaksanakan kegiatan capacity building berupa training kader, untuk semua kader posyandu dampingan SOS.
- Para Pembina dengan anak-anak dampingan dapat melakukan advokasi di bidang kesehatan tentang penanggulangan gizi kurang dan gizi buruk, yang dituangkan dalam rekomendasi hak anak yang telah disampaikan ke Pemerintah dan DPRD Kabupaten/Kota, demikian bisa diteruskan hingga Gubernuran dan Kementrian.
b. Pencapaian
Para Pembina wajib mengetahui apa pencapaian dari program-program yang dilakukan. Sehingga ada pembelajaran dan ada dampak pertumbuhan kemandirian anak dan keluarga dapat termonitor dengan jelas.
Misal:
Melalui kegiatan sosialisasi dan kunjungan rumah sudah mulai nampak adanya perubahan perilaku masyarakat. Walaupun sangat pelan, tetapi dilihat dari perubahan soal partisipasi dan kehadiran balita di posyandu yang semakin meningkat, sudah mulai adanya kesadaran dari masyarakat akan pentingnya perhatian terhadap pertumbuhan dan perkembangan balitanya melalui partisipasi dan kehadirannya dalam kegiatan posyandu.
Dengan pemberian PMT umum saat penimbangan balita di Posyandu, adanya semangat dari orang tua dan balita untuk datang mengikuti posyandu, karena di posyandu disediakan PMT seperti bubur kacang, telur, susu dan meal time.
Pelayanan PMT khusus, 4 sehat 5 sempurna 3 kali seminggu, membuat adanya perubahan peningkatan status gizi balita dan penurunan angka gizi kurang dan gizi buruk pada posyandu dampingan.
Tersedianya sarana kesehatan sangat membantu anak dan masyarakat pada wilayah dampingan. Yang mana sebelumnya mereka sangat mengalami kesulitan air bersih untuk dikonsumsi setiap hari dan MCK pada fasilitas umum seperti di sekolah-sekolah dan tempat-tempat ibadah.
Kegiatan training yang dilakukan bagi para kader sangat bermanfaat bagi pelayanan terhadap anak-anak di posyandu. Hal itu bisa dilihat dari adanya peningkatan kehadiran peserta posyandu pada saat posyandu. Karena pelayanan para kader sekarang lebih menggunakan hati. Salah satu contoh : Apabila orang tua tidak mengantarkan anaknya ke pos gizi, para kaderlah yang pergi menjemputnya. Hal ini tidak pernah dilakukan sebelum adanya pelaksanaan kegiatan training kader.
Perubahan-perubahan di atas sangat nampak terlihat setelah adanya pendampingan dan perhatian khusus dari Pembina SOS terhadap balita di posyandu.
Mohon dibuat perbandingan kondisi sebelum adanya kegiatan pendampingan di posyandu dan setelah ada intervensi para Pembina SOS ke posyandu tersebut. Banyak hal-hal yang memprihatinkan menimpa balita-balita di posyandu. Angka gizi kurang dan gizi buruk sangat tinggi dan kesadaran orang tua dalam mengikuti posyandu masih sangat kurang.
sumber : SOS Jogja












