Kurikulum Balai Anak
Kurikulum Balai Anak “Aku Anak Indonesia” 6 bulan yang sederhana
Prolog
Mari memulai dengan berfikir positif, karena menurut pelajaran matematika dasar positif dikali positif sama dengan positif, karena itu jika dari awal pemikiran tentang kurikulum ini positif maka seharusnya akan menghasilkan sesuatu yang positif. Tetapi ketika positif dikali negative maka tetap saja akan menghasilkan yang negative dan seterusnya menurut pelajaran matematika dasar.
Setelah berfikir positif mari kita sedikit menelaah tentang konsep balai anak yang digagas oleh Family Strengthening Programme (FSP) SOS Children Villages Yogyakarta, bahwa balai anak adalah bagian dari program FSP yang kehadirannya sebagai sebuah rumah tempat anak, orang tua, pendamping dan lembaga swadaya masyarakat bersama-sama membangun spirit pembelajaran yang sejati pada anak-anak, agar anak-anak menemukan dirinya sendiri pada wilayah minat, kemampuan dan keterbatasan yang diolah untuk menjadi kekuatan sehingga menjadi sebuah potensi.
Pada proses panjangnya rumah yang bernama balai anak ini menggunakan berbagai macam metode guna membantu mencapai tujuan kehadirannya salah satunya adalah pembelajaran terpadu dan tematik dengan tujuan agar anak dalam proses belajar tidak terkotak-kotakkan dibatasi mata pelajaran, melainkan terpadu dalam kerangka tema yang dekat dengan dunia anak, ada banyak lagi metode seperti eksplorasi, sharing atau berbagi baik pengalaman maupun pengetahuan atau juga dengan berkompetisi dalam olah fikir, olah raga dan olah rasa yang secara keseluruhan berangkat dari spirit lokalitas, segala sesuatu yang dekat dengan kehidupan anak untuk kemudian dipresentasikan dalam berbagai bentuk pementasan, pameran, penerbitan karya tulisan atau karya-karya anak yang lain.
Prinsip Dasar
Kurikulum Aku anak Indonesia dalam 6 bulan yang sederhana berusaha untuk berangkat dari apa yang sudah dilakukan dan dari apa yang ada, berangkat dari metode-metode yang sudah dilakukan dengan merespon kelokalan dan apa yang tersedia di lokal masing-masing dampingan. Dengan menggunakan beberapa prisip seperti Bermain, Sederhana, Holistik (menyeluruh) dan tematis tentunya.
Bermain, disadari atau tidak kata ini berpengaruh lebih dari kata belajar, pada kurikulum ini kita tidak akan menyandingkan dua kata sekaligus bermain sambil belajar atau belajar dan bermain, belajar ya belajar bermain ya bermain kalaupun dalam permainan ada pelajarannya itu adalah bonus dari permainan. Karena secara psikologis ketika kita mengajak anak-anak bermain sambil belajar maka kata belajar menjadi ganjalan yang cukup berpengaruh pada emosi anak, jadi malas bermain misalnya. Bemain ini akan terjadi dua arah, pendamping yang bermain dengan anak dan anak yang bermain dengan pendamping, pendamping menggunakan media pembelajaran sebagai sebuah permainan dan anak menerimanya sebagai sebuah permaianan dan akhirnya keduanya bermain maka terjadilah sebuah permainan yang serius diantara mereka.
Sederhana, bermain adalah kata pertama yang sederhana yang telah dibahas di atas selanjutnya adalah tentang memulai dari sesuatu yang paling sederhana, tidak berat tidak juga rumit sederhana saja, meski sederhana relative sesuai dengan individu masing-masing tapi mari kita mulai dari sesuatu yang ada di sekitar kita, yang paling dekat, mudah didapat, banyak bermanfaat dan mudah diingat. Semacam mengeksplorasi sesuatu semaksimal mungkin dan sedetail mungkin
Menyeluruh, berangkat dari sebuah permainan sederhana anak-anak bisa belajar tanpa harus terkotak dalam bidang tertentu, kurikulum ini terpadu meski berangkat dari yang paling dekat menuju yang lebih jauh, dari yang khusus menuju yang umum (induktif). Menyeluruh juga berarti tidak membatasi cakupan bisa apa saja, siapa saja, kapan saja, dimana saja yang penting bermain dan sederhana. Pesan dari mba tata ttg holistik atau menyeluruh di sini fokus pada mengasah spiritual, mengembangkan aspek sosial dan fisiknya, menguatkan daya intelektualnya plus psikisnya juga, dll. jadi bener2 muatan kita ke anak tersebut kuat agar jiwa mandirinya tumbuh dan berkembang dengan baik.
Tematik, permainan sederhana yang menyeluruh dalam satu tema dengan subtema yang judulnya ditentukan oleh pendamping sesuai dengan minat, kemampuan, keterbatasan, kekuatan dan potensi pendamping disesuaikan dengan minat, kemampuan, keterbatasan, kekuatan dan potensi wilayah dampingan sehingga tercapai sebuah sinergisitas diantara keduanya.
Media Pembelajaran
Media pembelajaran akan berupa banyak hal sesuai dengan realitas pendamping dan realitas dampingan, namun ada beberapa media pembelajaran yang sudah dilakukan yang menjadi acuan awal diantaranya menulis, outing, photograpy atau menggambar, membuat maket/peta/miniature, seni pertunjukan panggung(musik, tari, drama dan lainnya), Film, dan sharing/diskusi/curhat
Menulis, media pembelajaran ini bisa menulis apapun bentuknya dengan 4 prinsip di atas dan adaptable untuk yang sudah bisa menulis dan belum bisa menulis sederhananya anak Indonesia belajar budi pekerti dengan mengetahui hak dan kewajiban melalui tulisan aktivitas keseharian yang dilakukan di rumah dengan permainan bermain dengan kertas dan bolpoin pertama bercerita dengan menggunakan media peraga bolpoint dan kertas. Dua pertemuan dalam seminggu dibagi menjadi pertemuan pertama berkaitan dengan hal fisik, kedua berkaitan dengan non fisik dalam subtema anak Indonesia mengetahui hak dan kewajiban di rumah. Maka pertemuan pertama bolpoint dan kertas bisa jadi alat Bantu peraga permainan untuk menjelaskan apa dan siapa yang ada di dalam rumah, begitu juga pada pertemuan ke dua. Untuk yang belum bisa menulis maka belajar alphabet/abjad misal huruf a untuk kata benda almari atau a untuk ayah pada pertemuan pertama. A untuk kata angkat pada kegiatan membantu ibu membersihkan ruang tamu. Atau dengan ide permainan yang lain yang lebih dekat dengan anak dan menarik.
Outing, melakukan perjalanan, kunjungan, observasi di luar ruangan yang dilakukan dalam format sebuah permainan bisa apa saja, dalam tema anak Indonesia belajar budi pekerti dengan mengetahui hak dan kewajiban di lingkungan hari pertama maka permainan menggunakan permainan mengumpulkan harta karun yang terbuang misal, anak anak diajak mengumpulkan baarang atau benda buangan yang tercecer di lingkungan mereka yang mereka anggap berarti sambil mengenali rumah siapa yang ada di situ selain rumah penduduk ada bangunan apa lagi dll. Hari kedua anak-anak diajak untuk membuat sesuatu dari harta karun yang terbuang yang telah dikumpulkan misal miniature balai desa, judul permainannya adalah bermain membangun balai desa para boneka tentunya hari pertama anak-anak sudah mengetahui apa dan siapa yang ada di balai desa, hari kedua focus pada apa yang dilakukan orang-orang di balai desa dan lingkungan, jika adanya balai dusun ya balai dusun, jika adanya pos ronda ya pos ronda saja. Kemudian permainan yang dilakukan disesuaikan dengan apa yang ada di sekitar dampingan dengan media yang lain. Seni pertunjukan panggung misalnya dengan bermain peran dalam judul ronda malam di dusunku.
Photograpy/menggambar, bermain kamera bisa saja dilakukan dengan outing media ini cukup adaptebel namun bagaimana membuatnya menjadi sebuah permainan adalah tantangannya dengan tema yang ditentukan pula, misalkan ketika akan menjelaskan bagaimana cara menggunakan kamera di kaver dalam sebuah permainan cerita. Akulah sang fotografer pendamping membawa anak anak dalam sebuah permainan cerita tentang para fotografer yang sama-sama sok tau sehingga pendamping dengan bijak sebagai fotografer sejati atau dia memilih seorang anak yang sebelumnya sudah faham teknis penggunaan kamera untuk tidak menyalahkan kesoktauan tapi dengan santun bermain kamera bersama tanpa menggurui atau menasehati. Sambil cerita berjalan hari pertama target jepretan/ foto adalah benda dan siapa saja yang ada di rumah, hari kedua siapa yang melakukan aktifitas apa. Begitu pula dengan menggambar.
Membuat maket/peta/miniature, ini berkaitan dengan hasil outing atau bisa saja berdiri sendiri tentang bermain dengan segala sesuatu yang dekat dengan anak-anak yang bisa diwujudkan dalam bentuk maket/peta/miniature tetap dalam format bermain dan dalam tema aku anak Indonesia belajar hak dan kewajiban dengan judul hasil kreasi pendamping atau anak-anak, misal hari pertama membuat benda yang ada di dalam rumah dari kertas Koran atau membuat peta/denah rumah. Dan di hari kedua benda-benda tersebut menjadi alat peraga dalam permainan aktivitas yang berkaitan dengan hak dan kewajiban anak dalam rumah.
Seni pertunjukan panggung, misalnya bermain musik dengan alat musik yang berasal dari benda di dalam rumah yang bisa memproduksi bunyi, tentunya benda yang berkaitan dengan anak Indonesia belajar hak dan kewajiban dirumah misal sapu lidi yang biasa dilakukan untuk membantu ibu menyapu halaman. Hari kedua sebuah tampilan karya seni pertunjukkan pun sudah bisa terealisasi.
Film, menonton film yang berkaitan dengan tema dan subtema kemudian merefleksikannya dengan permainan yang mengeksplorasi ingatan setelah menonton film baik wilayah fisik dan non fisik hari pertama misalnya bermain setelah nonton film adalah kata berkait anak-anak mengingat satu benda yang ada di film masing-masing berbeda bendanya, kemudian pendamping membuat sebuah cerita dengan potongan kata yang harus diisi oleh anak yang ditunjuk dengan menyebutkan satu benda yang diingat dengan keras. Misal, Pendamping : seorang anak berjalan menuju sekolah dengan menggunakan…… Anak : Kursi Goyang dan selanjutnya. Hari kedua berbicara aktifitas yang ada di film dengan bermain menebak bahasa tubuh.
Sharing/diskusi/curhat, permainan yang bisa dibuat melalui media pembelajaran sharing dan diskusi atau curhat bisa banyak sekali dengan acuan bahwa bercerita kebahagiaan adalah usaha untuk menambah/menyempurnakan kebahagiaan, bercerita kesedihan adalah usaha untuk mengurangi kesedihan. Bahwa rasan-rasan atau ngerasani adalah budaya kritis namun ketika disampaikan di belakang menjadi tidak kritis lagi karena hanya selesai di satu sisi jika disharingkan atau didiskusikan maka akan menjadi curhat yang kemudian direspon yang bersangkutan bahkan bisa jadi dari yang tidak terkait sama-sekali. Misal hari pertama bermain yang isinya apa dan siapa yang ada di dalam rumah, berusaha memvisualkan bentuk benda dengan tubuh-tubuh yang kadar kemiripannya ditentukan bersama-sama (diskusi), hari kedua aktivitas yang berkaitan dengan hak dan kewajiban dalam rumah bermain ketuk pintu misalnya, adik adik dibagi 2 kelompok masing masing memiliki tugas yang berbeda, misal kelompok 1 bertugas menjadi tuan rumah yang ramah dan tidak boleh marah tetapi dia tidak mengijinkan siapapun masuk dalam rumah karena rumahnya sedang diperbaiki dia takut nanti malah terjadi kecelakaan, kelompok 2 bertugas sebagai tetangga yang sedang mencari anaknya yang main entah dimana tapi dia curiga anaknya ada di dalam rumah tetangganya, bagaimana cara kelompok ini bisa masuk dalam rumah tanpa si penghuni tau kalau dia ternyata curiga anaknya ada di dalam. Masing masing anak dalam kelompok berperan sebagai sebuah keluarga ada bapak, ibu, adik atau kakak.
Jumlah Pertemuan dan Rentang Waktu Pendampingan
pendampingan ini berjumlah 2 pertemuan perminggu jadi dalam satu bulan ada 8 kali pertemuan selama 4 minggu, sedangkan rentang waktu setiap pertemuan minimal 120 menit dengan pembagian waktu :
5 menit waktu berdoa
20 menit sharing kegiatan harian
30 menit bimbel jika ada PR/persiapan ulangan/ujian
40 menit Bermain sederhana yang menyeluruh dan tematis
20 menit preview pertemuan hari itu (Menggali makna atau aplikasinya pada kehidupan)
5 menit waktu berdoa
sumber : SOS Jogja










