Memandirikan Keluarga

FSP (Family Strengthening Programmes) atau Program Penguatan Keluarga menjadi salah satu program SOS Children’s Villages untuk anak dan keluarga di luar Village yang difokuskan pada pembangunan keluarga sejahtera. FSP menjadikan setiap keluarga berkualitas dan mandiri. Pembangunan keluarga berkualitas, menurut rumusan PBB yang digelar dalam Milennium Development Goals (MDGs), atau dalam bentuk sederhana adalah kemampuan keluarga untuk bebas dari kemiskinan.

Kebebasan ini secara sederhana diwujudkan dalam ukuran kemampuan menikmati akses, atau berpartisipasi, dalam mengembangkan usia yang panjang dan berguna dengan dukungan bidang kesehatan yang memadai, pendidikan atau sekolah setinggi-tingginya yang mengantar pada kesempatan mempergunakan peluang kerja yang terbuka, atau bahkan memberi kemampuan untuk menciptakan sendiri lapangan kerja yang menguntungkan, dan partisipasi dalam wira usaha ekonomi produktif yang menjamin pendapatan yang memadai agar bisa mengantar anak dan keluarganya pada pilihan hidup yang demokratis, memberi kebahagiaan dan kesejahteraan menurut pilihan anak dan keluarganya.

Wirausaha (entrepreneur) adalah kesadaran orang untuk mendirikan, mengembangkan, dan melembagakan usaha yang dimilikinya. Dalam usahanya itu dilakukan dengan kemauan dan kemampuan yang penuh kreatif, inovatif, swa-kendali, dan siap mengambil resiko dalam melihat, menciptakan, dan memanfaatkan peluang untuk maju, dan meningkatkan usahanya. Terdapat faktor yang menyebabkan seseorang menjadi wirausahawan. Faktor-faktor tersebut adalah:

a. Individu

Mencermati kepala-kepala keluarga dampingan kita selama ini, bahwa seorang wirausahawan mempunyai kepribadian khusus yang membedakan antara satu orang dengan orang lain yang memilih untuk tidak menjadi wirausahawan dan hal ini tidak dapat diajarkan. Apakah kemampuan kepribadian ini didapat sejak lahir atau berkembang sesuai dengan perkembangan seseorang, hal tersebut masih menjadi pertentangan sampai sekarang. Namun yang pasti kita mendapatkan bukti bahwa memang ada ciri kepribadian tertentu yang melekat pada seorang wirausahawan yang sukses.

b. Budaya

Pengaruh budaya dengan kemampuan kepribadian seseorang dapat saling tumpang tindih antara yang satu dengan yang lainnya. Akan tetapi harus diakui bahwa kadang kala ada suatu etnis tertentu dengan budaya tertentu yang lebih unggul dalam hal membangun bisnis daripada anggota kelompak etnis yang lain.

c. Keadaan Masyarakat

Pada beberapa dampingan masyarakat, dapat kita temukan beberapa orang yang tidak berencana untuk menjadi wirausahawan, namun mereka terpaksa menjadi wirausahawan karena tuntutan keadaan. Keputusan untuk menjadi wirausahawan dipicu oleh berubahnya keadaan.

d. Kombinasi dari berbagai faktor

Seseorang memutuskan untuk menjadi berwirausaha karena ketiga faktor yang sudah disebutkan di atas yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Kesadaran untuk memenuhi kebutuhan dan melindungi keluarga, diujudkan dalam kemauan berwirausaha. Untuk penguatan keluarga dibutuhkan kemampuan dan usaha-usaha yang didukung oleh berbagai hal.

————————-

Kajian terhadap indicator dari ketahanan fisik, ketahanan social, dan ketahanan psikologis, serta syarat tercapainya indicator ketahanan keluarga tersebut, menunjukkan bahwa inti dari peningkatan ketahanan keluarga adalah pembangunan pendidikan, pembangunan ekonomi dan pembangunan keluarga sejahtera melalui optimalisasi fungsi keluarga, fungsi ekonomi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi cinta kasih dan fungsi reproduksi.

Proses pemberdayaan yang semestinya dilakukan sendiri oleh masing-masing keluarga, karena berbagai alasan, tidak mungkin dilakukan sendiri-sendiri oleh setiap keluarga di Indonesia. Tingkat pendidikan dan pengalaman keluarga di Indonesia begitu rendah sehingga apabila pembangunan keluarga itu diserahkan seluruhnya kepada setiap keluarga akan menyebabkan kesulitan yang luar biasa bagi sebagian keluarga di Indonesia. Kepala keluarga di Indonesia, khususnya yang kita dampingi sebagian besar mempunyai tingkat pendidikan SD, atau paling tinggi SMP, sehingga kesadaran mereka terhadap partisipasi dalam bidang kesehatan dan pendidikan relatif rendah.

Upaya membawa anak kepada dokter atau tempat pelayanan kesehatan biasanya menunggu kalau anaknya sakit. Upaya pemerintah dan banyak lembaga swadaya masyarakat untuk meningkatkan kesadaran pencegahan, atau imunisasi, berjalan alot dan memerlukan usaha yang sangat keras. Upaya untuk memperluas cakupan, agar seluruh anak Indonesia memperoleh imunisasi secara lengkap, bukan pekerjaan gampang. Padahal imunisasi adalah suatu usaha preventif dalam bidang kesehatan yang dimaksudkan untuk menggugah kemampuan kekebalan dalam tubuh agar “secara mandiri” mampu mengatasi kemungkinan datangnya serangan penyakit pada dirinya. Di negara maju hal ini tidak perlu diadakan gerakan, secara otomatis setiap orang tua akan membawa anaknya untuk mendapatkan imunisasi secara lengkap.

Imunisasi berbeda dengan pengobatan. Imunisasi diikuti oleh anak-anak yang sehat, dan tidak perlu menunggu sakit, bahkan tidak perlu menunggu sampai daerah itu bakal terserang penyakit yang dianggap sebagai daerah berbahaya. Imunisasi diberikan karena kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu perlu diberikan secara dini agar kemungkinan terkena penyakit yang dimaksud tidak perlu terjadi. Imunisasi sebagai pemacu dan pemicu ketahanan tubuh yang sangat diperlukan untuk menjamin manusia bisa berusia panjang yang sehat dan tetap bugar.

Imunisasi dalam bidang pendidikan harus pula diberikan untuk merangsang kemampuan berpikir rasional sehingga anak-anak kita di kemudian hari, secara mandiri, bisa menghadapi segala godaan dan tantangan yang makin kompleks dengan tegar dan berhasil. “Imunisasi” jenis ini dilakukan dengan mengirim anak-anak ke sekolah. Salah satunya adalah ‘Children Center’, sebuah model penerapan pendidikan holistic di luar formal standard normal yang telah dilakukan selama ini melalui pendampingan FSP.

Di bale anak kita, anak-anak memperoleh “imunisasi ilmu pengetahuan” bukan tentang dukungan ilmu untuk menyelesaikan masalah hari ini, tetapi memberi bekal untuk mampu mengembangkan kemampuan untuk memecahkan masalah masa depan, mampu mengembangkan karya besar sehingga anak bangsa ini bisa menjadi “tuan besar” atas karya yang diciptakannya. Imunisasi pendidikan bukan hanya sekedar sekolah setinggi-tingginya, tetapi dalam keadaan perubahan sosial dan globalisasi sedang terjadi di seluruh dunia secara gencar, anak-anak bangsa kita sanggup menempatkan diri dalam posisi siap bersaing, siap mandiri, dan siap menjadi teladan dan kampiun dunia, tanpa tercerabut dari akar budaya masing-masing.

Kesempatan seperti ini, dalam rangka pengentasan kemiskinan, mengharuskan kita berjuang keras dengan masyarakat untuk memberi kesempatan dan dukungan anak-anak bangsa dari keluarga kurang mampu untuk bersekolah di ‘sekolah unggul’ agar mereka menjadi pejuang untuk memotong rantai kemiskinan. Mereka bisa membebaskan pertama-tama keluarganya sendiri dan ikut dalam barisan baru untuk mengembangkan kesejahteraan yang luas untuk seluruh anak bangsa. Anak-anak pejuang masa depan harus ditantang bukan saja di sekolah, tetapi seperti pernah digambarkan sebelumnya, ditantang untuk langsung berinteraksi dalam masyarakat dalam program “link and match”, atau program-program yang relevan dengan lingkungan dan kesempatan yang terbuka atau kemungkinan dapat dibuka di masa depan.

Itulah sebabnya, pelayanan kesehatan dan pendidikan yang digelar pemerintah, bukan saja menjadi pelayanan statis, menunggu kesadaran masyarakat untuk datang kepadanya, tetapi harus bersifat menjemput bola, dengan dukungan FSP, kita mencari keluarga kurang mampu, anak-anaknya, dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memanfaatkan semaksimal mungkin kesempatan yang terbuka itu. Bahkan usaha-usaha ekonomi mikro harus dikerahkan untuk “menjual” gagasan itu sebagai usaha membangun keunggulan masa depan bagi anak-anak keluarga kurang mampu.

Kalau kita gagal membangun untuk keluarga kurang mampu, anak-anak keluarga kurang mampu, maka kita akan jalan di tempat. Kita akan sama saja sekarang, sepuluh tahun yang akan datang, atau bahkan dua puluh tahun mendatang. Kebahagiaan dan kesejahteraan masa depan sangat tergantung pada langkah-langkah strategis yang tepat dan kita laksanakan sekarang juga. Masa depan di tangan kita, bukan di tangan anak cucu kita. Apa yang kita kerjakan sekarang akan mengantar masa depan yang sejahtera dengan mulus dan penuh harapan.

sumber : SOS Jogja